Sabtu, 21 November 2015

Sejarah KYAI TELINGSING
Masjid n desa Nganguk Wali
Dan Desa Sunggingan

Sebelum berdirinya Kerajaan Islam di Demak,
terjadilah kejadian yang menggemparkan di
daerah Kudus.
Peristiwa itu terjadi pada diri
Kanjeng Sunan Sungging. Pada suatu hari
Kanjeng Sunan Sungging bermain layang-
layang tersiratlah niat beliau untuk melihat dan
berkeliling Wilayah Nusantara.
Maka mulailah
beliau merambat melalui benang layang-layang
yang sedang melayang diangkasa. Pada waktu
Kanjeng Sunan Sungging sampai ditengah-
tengah angkasa, putuslah benang tersebut dan
melayanglah beliau bersama layang-layang
tersebut hingga sampai ke Tiongkok.
Selang
beberapa tahun, Kanjeng Sunan Sungging
mempersunting seorang gadis Tiongkok. Dalam
beberapa tahun kemudian hamillah istri
tersebut dan melahirkan bayi laki-laki yang
diberi nama The Ling Sing.
Setelah The Ling
Sing menginjak dewasa, maka ayahandanya
Kanjeng Sunan Sungging memberi petuah
kepada anak tersebut. Apabila engkau ingin
menjadi orang yang mulia di dunia dan
akherat, maka ikutilah jejakku. Apakah yang
ayahanda maksudkan ? Pergilah kau ke Kudus
yang termasuk wilayah Nusantara, disanalah
aku pernah berdiam.
Maka berangkatlah The
Ling Sing ke Kudus. Setelah ia sampai
ketempat yang dituju, maka mulailah The Ling
Sing menyiapkan diri untuk membenahi
sekelilingnya dan berdakwah. Dimana pada
waktu itu masyarakat Kudus masih kuat
memeluk agama hindu. The Ling Sing yang
lebih terkenal dengan sebutan Kyai Telingsing
yang telah lama berdakwah telah lanjut usia
dan ingin segera mencari penggantinya. Pada
suatu hari Kyai Telingsing berdiri sambil
menengok kekanan dan kekiri. (bahasa Jawa
Ingak-Inguk) seperti mencari sesuatu.
Tiba-tiba
Sunan Kudus muncul dari arah selatan, dan
secara tiba-tiba Sunan Kudus membangun
masjid dalam waktu yang amat singkat,
bahkan ada yang mengatakan masjid itu
muncul dengan sendirinya. Berhubung dengan
hal tersebut desa tempat masjid tersebut
berdiri dinamakan desa Nganguk dan
masjidnya dinamakan masjid nganguk wali.
Akhirnya kedua tokoh tersebut bekerja sama
dalam mengembangkan dakwah di Kudus.
Dan
dengan taktik dan siasat dari Kyai Telingsing
dan Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) akhirnya
berhasillah cita-cita keduanya untuk
menyebarkan Islam di Kudus.
Pada suatu hari
Sunan Kudus akan kedatangan rombongan
tamu dari Tiongkok. Maka dipanggillah Kyai
Telingsing untuk membuat sebuah kenang-
kenangan kepada tamu tersebut. Oleh Kyai
telingsing dibuatlah sebuah kendi yang
bertuliskan indah di dalamnya. Setelah kendi
tersebut jadi, maka segera diberikan kepada
Sunan Kudus.
Sunan Kudus setelah melihat
kendi yang menurutnya kurang bagus dan
biasa-biasa saja yang tidak pantas untuk
dihadiahkan kepada tamu dari Tingkok
tersebut, wajahnya berubah sinis dan
menerimanya dengan kurang berkenan dan
dilemparlah kendi tersebut. Setelah kendi
tersebut pecah, terdapatlah lukisan yang
indah, dimana ditengah-tengahnya tertulis
kalimat syahadat.
Seketika itu terperanjatlah
beliau menunjukkan kekagumanya, sehingga
beliau menyadari, betapa kyai Telingsing adah
seorang yang memiliki karomah. Diantara
sabda dari Kyai Telingsing,
“Sholat Sacolo
Saloho Donga sampurna", artinya : Sholat
adalah sebagai do’a yang sempurna
Lenggahing panggenan Tersetihing ngaji
artinya : Menempatkan diri pada sesuatu yang
benar, suci dan terpuji.
Beliau kini makamnya
di kampung sunggingan-Kudus. Ada sebagian
orang yang mengatakan kalau beliau adalah
seorang pemahat yang masuk dalam aliran Sun
Ging.
Dari nama Sun Ging inilah kemudian
terjadi kata Nyungging yang artinya memahat
atau mengukir, dan dari kata Sung Ging itu
pulalah terjadi namanya Sungingan sampai
sekarang ini.

Asal Usul Desa Sunggingan




Adoh sakdurunge ngadeke kerajaan Islam ing Demak ana kejadian sing ngagetake kabeh masyarakat Kudus. Ing sawijining dina ana peristiwa ing sawijining manungsa ingkang naminipun Kanjeng Sunan Sungging.
Ing sawijining dina, Kanjeng Sunan Sungging dolanan layangan, slirane anduweni niat kagem ngubengi wilayah nusantara. Mulane slirane mrembet-mrembet ing benang layanganipun kanjeng Sunan Sungging, slirane miber sampek negeri Tongkok. Ing negeri Tiongkok slirane ngawini wong wadon ing negei Tiongkok sampai nggadahi putra ingkang asmanipun The Liang Sing. Sakwise The Liang Sing sampun cukup umur, The Liang Sing diparingi nasehat yaitu The Liang Sing diutus kanjeng sunan Sungging kangge tindak wonten nusantara.
Sakwise The Liang Sing dumugi ing negeri nusantara, mangka do kumpula para wali ing sawijining panggenan kangge musyawarah ing sawijining dina, Sunan Kudus kedatengan tamu saking negeri Tiongkok. Maka ditimbali kyai Telingsing diutus damel kenang-kenangan kangge tamu saking negeri tiongkok. Kyai Telingsing damel kendi kang wonten lukisan/ kaligrafi ing jerone kendi. Kendi niku diaturake dening tamu Sunan Kudus. Kenang-kenanganipun namung kendi, lajeng kendinipun diuncalke. Sakwise diuncalke kendinipun pecah, lan wonten lukisan ing jerone kang tulisane inggih menika kalimat Syahadat. Tamunipun Sunan Kudus kaget mirsani tulisan ing kendinipun ingkang didamel kyai Telingsing. Tamunipun langsung percados ing Kyai Telingsing, amargi kyai Telingsing pinter nyungging/ ngelukis. Menawi sebab menika desanipun diparingi asma desa Sunggingan

Selasa, 17 November 2015

Asal Usul Desa Sunggingan


Adoh sakdurunge ngadeke kerajaan Islam ing Demak ana kejadian sing ngagetake kabeh masyarakat Kudus. Ing sawijining dina ana peristiwa ing sawijining manungsa ingkang naminipun Kanjeng Sunan Sungging.
Ing sawijining dina, Kanjeng Sunan Sungging dolanan layangan, slirane anduweni niat kagem ngubengi wilayah nusantara. Mulane slirane mrembet-mrembet ing benang layanganipun kanjeng Sunan Sungging, slirane miber sampek negeri Tongkok. Ing negeri Tiongkok slirane ngawini wong wadon ing negei Tiongkok sampai nggadahi putra ingkang asmanipun The Liang Sing. Sakwise The Liang Sing sampun cukup umur, The Liang Sing diparingi nasehat yaitu The Liang Sing diutus kanjeng sunan Sungging kangge tindak wonten nusantara.
Sakwise The Liang Sing dumugi ing negeri nusantara, mangka do kumpula para wali ing sawijining panggenan kangge musyawarah ing sawijining dina, Sunan Kudus kedatengan tamu saking negeri Tiongkok. Maka ditimbali kyai Telingsing diutus damel kenang-kenangan kangge tamu saking negeri tiongkok. Kyai Telingsing damel kendi kang wonten lukisan/ kaligrafi ing jerone kendi. Kendi niku diaturake dening tamu Sunan Kudus. Kenang-kenanganipun namung kendi, lajeng kendinipun diuncalke. Sakwise diuncalke kendinipun pecah, lan wonten lukisan ing jerone kang tulisane inggih menika kalimat Syahadat. Tamunipun Sunan Kudus kaget mirsani tulisan ing kendinipun ingkang didamel kyai Telingsing. Tamunipun langsung percados ing Kyai Telingsing, amargi kyai Telingsing pinter nyungging/ ngelukis. Menawi sebab menika desanipun diparingi asma desa Sunggingan

Cornel Simanjuntak

Cornel Simanjuntak (PematangsiantarSumatera Utara1921 - Yogyakarta15 September 1946) adalah seorang pencipta lagu-lagu heroik dan patriotik Indonesia. Ia dianggap sebagai tokoh yang membawa bibit unggul perkembangan musik Indonesia.

Masa Pra-Kemerdekaan

Cornel Simanjuntak yang beragama Katolik dilahirkan di Pematang Siantar tahun 1921 dari keluarga pensiunan polisi kolonial. Cornel tamatan HIS St. Fransiscus Medan, 1937, HIK Xaverius College Muntilan 1942.
Kemudian, jadi guru di Magelang beberapa bulan. Pindah ke Jakarta, jadi guru SD Van Lith. Tetapi karena bakat seninya lebih garang, ia beralih profesi ke Kantor Kebudayaan Jepang, Keimin Bunka Shidosho. Di sanalah ia menciptakan lagu propaganda Jepang antara lain: Menanam Kapas, Bikin Kapal, Menabung — yang paling populer di antaranya berjudul Hancurkanlah Musuh Kita. Guru musiknya adalah Pater J. Schouten dan Ray serta juga mendiang Sudjasmin.

Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Cornel memiliki sejumlah pengalaman perang. Pada tahun 1945-1946, ia mengarahkan moncong senjatanya kepada tentara Gurkha/Inggris. Malang, dalam sebuah pertempuran di daerah Senen - Tangsi Penggorengan Jakarta, pahanya tertembak. Dirawat di RSUP. Belum sembuh benar, ia diselundupkan ke Karawang karena Gurkhamelakukan pembersihan.
Dari Karawang ia dikirim ke Yogyakarta. Di kota inilah kemudian lahir lagu-lagu yang heroik dan patriotik. Antara lain: Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, Indonesia Tetap Merdeka.
Peluru di paha Cornel konon tetap bersarang ketika penyakit kronis TBC menyerangnya — dan langsung menumbangkannya ke liang lahat. Ia meninggal pada tanggal 15 September 1946 di Sanatorium Pakem, Yogya, dalam status perjaka. Ia dimakamkan di Pemakaman Kerkop Yogyakarta.
Menjelang maut Cornel masih sempat mengangkat telepon untuk menyampaikan pesan-entah kepada siapa, entah pesan apa-tapi ia keburuh jatuh, dan mata serta mulutnya menjadi kaku. Menurut rekannya sesama pejuang, Karkono Kamajaya, menjelang ajal ia masih sempat menulis lagu bernama Bali Putra Indonesia. Lagu yang ditulis dengan gamelan itu belum selesai.

Pemindahan Makam ke TMP Semaki Yogyakarta

Pemindahan Cornel ke Taman Makam Pahlawan sebenarnya sudah diusulkan sejak September 1978. Hampir saja merepotkan, karena beberapa instansi meminta data-data berupa bintang jasa yang ada.
Ternyata Cornel tidak sebiji pun mengantongi persyaratan itu. Ia hanya mewariskan tanda kehormatan Piagam Satya Lencana Kebudayaan yang dianugerahkan tahun 1961 oleh Pemerintah Indonesia. Letkol Suharsono S., Dan Dim 0734 Yogya, menganggap Satya Lencana itu setingkat dengan Bintang Gerilya atau bintang-gemintang lainnya. Jadi bisa dipakai sebagai tiket masuk Mahkam Pahlawan, asal ada izin keluarga.
Usul yang didalangi para seniman yang tergabung dalam ‘Sasana Vocalia Yogya’ pimpinan Suyudono Hr tersebut, akhirnya jadi lancar ketika KSAD Jenderal Widodo memberikan persetujuannya.
Dari Kerkop, kerangka sempat diinapkan di Art Gallery Senisono di samping Gedung Agung. Maklumlah gedung mi dlanggap pusat kesenian Yogya. Selama itu lagu-lagu mendiang berkumandang terus-menerus dibawakan oleh sejumlah bocah dari Paduan Suara Bocah Bocah Sasana Vokalia. Serentetan tembakan salvo mendampingi prosesi ketika sisa-sisa tubuh Cornel Simanjuntak dalam liang lahat yang lebih terhormat di Taman Makam Pahlawan Semaki di kota yang sama. Hari itu, 10 Nopember 1978, Yogya mengenang kembali komponis pejuang itu.
“Gugur sebagai seniman dan prajurit tanah air,” demikian kalimat di batu nisan Cornel Simanjuntak.